Terima Kasih Tuhan
Pertengahan tahun lalu, 2025, saya kulakan beras dengan si mbarep saya ke sebuah tempat produksi beras, selepan kalau kami menyebutnya.
Waktu itu udah cukup sore, sekitar pukul 16.00, tapi masih banyak pekerja di selepan yang sibuk mengarungi gabah yang baru selesai dijemur hari itu.
Biasanya saya bertransaksi langsung dengan pemilik selepan. Namun saat itu beliau sudah pulang, dan melalui telpon beliau mengabari saya akan dilayani pegawainya.
Jadilah saya ketemu dengan salah satu pegawai yang ternyata adalah simbok - simbok yang sudah lumayan sepuh. Seperti biasa, sambil menyampaikan orderan, saya mengajak beliau mengobrol, seperti halnya jika saya dengan pemilik selepan. Karena bagi saya hubungan jual beli tidak melulu bisnis namun juga mengikat relasi dan pertemanan yang baik. Bonusnya saya jadi dapat tambahan ilmu
Di akhir, simbok bertanya, dimana kendaraan saya karena akan dibantu mengangkat beberapa karung beras pesanan saya
Saya langsung menolak dan sampaikan, biar anak saya saja yang mengangkatnya.
Tiba2 simbok tertawa terkekeh..."niku putrane? Kulo kinten adike," kata beliau sambil bolak balik melihat saya dan anak saya
Masih belum cukup, saat di halaman selepan, beliau memanggil pegawai lain yang sedang mengarungi gabah
"Eh deloken to iki. Mosok iki anake mbak e iki. Ra mungkin yo? Pantese dadi adine," demikian kata beliau dengan muka keheranan
Itu baru satu kejadian. Masih banyak momen lain serupa. Dan hari ini terulang kembali, lagi - lagi dengan ibu - Ibu sepuh
Saat mengambil mobil di salah satu tour and travel milik teman
Karena teman saya sedang keluar rumah, saya ditemui oleh ibunya. Seorang nenek yang sudah cukup berumur namun masih sehat dan gesit menyerahkan kunci mobil yang rupanya sudah disiapkan oleh teman saya
Beliau mengantarkan saya hingga garasi mobil, dan bertemu anak saya di parkiran. Saya suruh anak saya salim
Langsung beliau nyeletuk "ini putranya? Nopo nggih. Kok koyo adine,"
"Umure njenengan pinten, Mas?" Tanyanya ke anak saya, masih seakan tidak percaya
Aahh begitulah kalau Tuhan sedang menghibur saya. Dengan hal - hal sederhana yang spontan dan tidak pernah saya sangka
Jadi apalagi yang kamu sedihkan, Day?
Maguwo ( lagi )
Mumpung masih di sini



Komentar
Posting Komentar