Di Balik Kemeriahan Pesta

Kemegahan acara purna siswa di sekolah anak saya telah usai siang ini. Acara yang banyak ditunggu oleh anak - anak dan orang tua. Mungkin juga bapak dan ibu guru karena sebagai wujud syukur atas proses pembelajaran 6 tahun yang panjang, apalagi saat kelas akhir yaitu kelas 6 dimana anak dan guru serta ortu berusaha memberikan yang terbaik dengan beragam les dan jam belajar tambahan.

Ditambah lagi tahun ini, sekolah anak saya meraih peringkat 3 TKA dan peringkat 5 TKA/TKAD se Kabupaten Sleman, dengan nilai gabungan tertinggi 290 serta beberapa anak meraih nilai sempurna di mapel matematika, Bahasa Indonesia dan IPAS

Sungguh prestasi yang membanggakan, bukan?

Panitia purna siswa yang terdiri dari perwakilan orang tua nampak bekerja keras menyiapkan keperluan acara, termasuk dari sisi pendanaan. Selain partisipasi orang tua, beberapa perusahaan juga turut menjadi sponsor. 

Untuk sekelas SD di kecamatan, acara purna ini tergolong mewah, meski hanya bertempat di aula sekolah, namun aula ini sendiri adalah bangunan megah yang kerap disewa masyarakat sebagai tempat resepsi pernikahan karena memang luas dan parkiran juga sangat memadai 

Apalagi dengan hadirnya The Banditoz yang sedang beken. Kekhidmatan acara diakhiri dengan joget bersama dengan iringan lagu ngetopnya "Kicau Mania"

Kalian bisa saksikan sendiri kemeriahannya di sini ya

Namun

Dibalik gegap gempita, ada satu ganjalan yang sedang saya pertimbangkan untuk klarifikasi ke pihak sekolah dan panitia

Yaitu tentang peringkat 10 besar yang menurut saya "kacau mania". Dimana sebelumnya guru wali kelas mengabarkan jika anak saya masuk 10 besar, pada peringkat 4. Beliau memastikan kehadiran anak saya karena akan ada momen penghargaan di atas panggung 

Berhubung anak saya tidak berkenan hadir dan dalam kondisi paska sunat, maka dengan berat hati saya sampaikan apa adanya. Karena saya menghargai sikap anak saya yang kurang suka acara ramai. Bahkan outing kelaspun dia sering skip. Baginya kewajiban dia di sekolah sudah selesai saat ujian akhir TKA TKAD sudah dilalui. Bahkan iming2 peringkat tidak membuatnya goyah. Justru semakin malas.

 Mengutip salah satu kalimat penolakannya "ibuk aku nggak peduli acara begituan. Untuk mensyukuri nilaiku bisa dilakukan di rumah aja. Jika ibuk mau beri aku hadiah, cukup tidak hadir di purna sebagai hadiahku"

See? Mau gimana lagi saya

Saat hari H, saya tetap mengikuti acara purna melalui streaming YouTube. Momen yang saya nantikan adalah MC menyebutkan nama anak saya di peringkat 4 meski dengan embel - embel keterangan tidak bisa hadir. Bayangan saya, meski orangnya tidak ada, minimal namanya bergaung di acara. Itu bisa menjadi kenangan buat saya

Karena sedang berada di area umum, saya menepi dari keramaian, menghidupkan screen recorder untuk merekam momen tersebut. Ketika MC sampai di peringkat 5 dengan nilai 276, saya makin berkonsentrasi karena nilai anak saya 279.4, artinya sebentar lagi dipanggil

Jreenng...ketika disebut peringkat 4 dengan nilai 280 dan nama anak lain, hati saya langsung mencelos. 

Kemana nilai anak saya?

Apakah tidak hadir purna kemudian dianggap nilainya tidal ada? Bagaimana nalar pembuat peringkat?

Anak saya kan hanya tidak ikut purna. Bukan tidak ikut TKA/TKAD. Ada nilai 279.4 yang dilewatkan dari pemeringkatan 

Mmhhh...wajar nggak sih kalau saya kecewa?

Tapi kemudian saya mencoba menenangkan diri. Toh ini hanya peringkat sekolah. Toh tidak ada poin tambahan. Toh anak saya tidak peduli dengan peringkat. Toh anak saya tidak gila flexing. Toh mencari sekolah nanti pakai nilai TKA/TKAD...Dan toh toh lainnya yang saya cari dibalik ketidakikhlasan hati.

Mungkin ekspektasi saya terlalu tinggi. Untuk bisa mendengar nama anak saya disebut di acara. Begitulah kadang manusia. Dan Allah langsung menyentil saya. Tapi saya kan hanya Ibu biasa yang bangga akan anaknya dan ingin mendokunentasikan kenangan itu

Dan saya pikir juga itu adalah hak anak saya untuk diapresiasi dalam momen penuh apresiasi tersebut.  Bukankah itu momen pengumuman, mengapa harus ada yang di skip misalnya tidak hadir?

Bukankah semestinya peringkat tidak ada hubungannya dengan ikut atau tidaknya di purna? Bukankah peringkat berhubungan langsung dengan nilai? 

Sampai waktu saya menulis ini, berulangkali saya putar kembali tapping live acara purna tadi di sini. Untuk memastikan ulang, untuk mencerma kembali

Dan hasilnya, saya masih tidak mengerti. Mengapa nilai anak saya diabaikan dari pemeringkatan?? Bagaimana nalar pemeringkatan mereka berjalan? Apakah ini yang disebut cacat nalar?

Good job, kalian sudah berhasil mendegradasi respek saya 

Semoga ada hal baik untuk anak saya dan kami sekeluarga sebagai penghiburan atas kekecewaan ini


Maguwo, 

yang lagi panas menggantang di luar

18 Juni 2026


Note :

Berdasar hasil konfirmasi 19 Juni ke Ibu Wali Kelas, peringkat TKA/TKAD disusun berdasarkan nilai murni, bukan nilai gabungan dengan raport. Di sini anak saya mendapat skor 280. Dan anak saya berada di peringkat 4, bersama 2 anak lain yang mempunyai nilai sama.

Sementara 279.4 adalah nilai gabungan, hasil penggabungan nilai TKA/ TKAD dan rapot. 

Untuk pemanggilan/penyebutan saat purna adalah kewenangan panitia penyelenggara.

Untuk hal ini saya berterima kasih kepada Ibu Wali Kelas atas penjelasannya 

Untuk skip penyebutan nama anak saya, menurut saya tergantung kedewasaan rasa dan berpikir panitia ( yang sampai sekarang belum ada konfirmasi). Tapi saya sudah mengikhlaskannya 

Pembelajarannya, jangan menganggap remeh hal apapun karena bisa jadi itu adalah hal penting bagi orang lain. Apalagi menyangkut hak. Kita harus lebih berhati - hati. Karena saya percaya semua hal ada karma yang mengikuti

Jika ada hal yang membuat ragu dan bimbang, akan lebih baik jika dikomunikasikan sejelas - jelasnya 





Komentar

Postingan Populer