Mesin Waktu

Mungkin kamu mengenalnya sebagai sawo.

Tapi saya menyebutnya sebagai buah kenangan. Mengecapnya melambungkan ingatan saya kepada sebuah rumah joglo dengan dinding depan berkayu jati, memanjang sepanjang area teras sehingga nyaris pintunya tersamar diantara kayu dinding karena terbuat dari bahan yang sama. Sedikit handle pintu yang menonjol yang membedakannya.

Rumah dengan halaman super luas mengelilingi bangunan. Rumah ini adalah rumah simbah, orang tua dari bapak saya. Rumah yang ketika masuk gerbang desa saja sudah tercium aroma khas bunga sawo dan lilin malam. Lilin khusus yang dipakai untuk membatik

Iya, kampung ini seingat saya tiap rumah memiliki pohon sawo. Bukan hanya satu, kadang lebih dari 5 karena tiap rumah punya halaman cukup luas. Dan tiap rumah rata - rata ada pemandangan kain batik dijemur di halaman atau ibu - ibu sepuh membatik di teras rumah. Perpaduan wangi bunga sawo dan aroma malam ini sangat sedap bagi saya. 

halaman depan, sayang rumah sudah tak ada ( 2017 ) 

Saya menjumpai lagi aroma ini ketika sedang bertugas di Kraton Jogja, mempersiapkan jaringan telekomunikasi untuk acara tingalan jumenengan sultan, yang karena cukup rumit, membuat saya dan tim berada di area kraton dari siang hari jam 14.00 ( jam tutup operasional kraton bagi wisatawan) hingga hampir pukul 12 malam. Memang di kraton juga cukup banyak pohon sawo, meski beda jenis, namun wanginya mirip. Apalagi ditingkah dengan aroma dupa di beberapa area, yang sekilas mirip aroma malam untuk membatik.

Sebelum dua kali hancur karena gempa Jogja 2006 dan 2010, rumah simbah teduh dengan banyak tanaman. Beraneka tumbuhan baik perdu maupun pohon besar tumbuh di halaman depan, belakang maupun samping rumah. Tumbuhan yang mayoritas kini jarang ditemukan. Misalnya aneka umbi seperti ganyong, garut, talas. Dan yang teristimewa, pohon sawo yang entah sudah berapa puluh tahun usianya. 

pohon tertua dengan batang menggelosor ( dok 2017 ) 

Umbi - umbian ada di halaman belakang. Pohon mawar yang subur tumbuh di dekat sumur. Sementara pohon sawo ada di beberapa sudut halaman. Ada sekitar 4 pohon di halaman depan, dan lebih dari 5 di halaman belakang dan samping. Hal ini membuat saya dan kakak perempuan saya tidak pernah kekurangan biji sawo sebagai bahan permainan "bar suru", mainan menyebar biji sawo ke lantai kemudian di "suru" atau diambil menggunakan daun atau kertas, seperti kita menyendok bubur menggunakan daun pisang yang disebut suru. Kami biasanya menggunakan daun melinjo yang agak tua karena teksturnya yang kaku memudahkan kami menggunakannya sebagai suru.

Saya biasanya berkunjung saat malam, karena kesibukan orang tua sebagai pegawai negeri sipil. Dan entah kebetulan atau bagaimana, sering sekali waktu kami datang, simbah punya makanan dari hajatan. Sego berkat yang menunya selalu mirip, nasi gurih dengan taburan kedelai hitam, mie kuning goreng tanpa kecap, sambal goreng kentang dan ikan bandeng goreng. Kami bertiga, yaitu saya, bapak dan ibu biasanya akan makan, sambil mengobrol dengan simbah kakung dan putri, dalam remang cahaya lampu minyak tanah karena listrik belum menjangkau kampung tersebut. Atau kami akan membungkusnya jika dirasa sudah kenyang atau waktu yang sudah larut. Dan tentunya juga membawa buah sawo matang pohon yang kerap jatuh dan dikumpulkan simbah untuk anaknya jika berkunjung atau dijual ke pasar jika sudah terlalu banyak.

Rumah simbah hanya berbeda kecamatan saja sebenarnya, tapi motor tua yang mengantarkan kami kemana - mana saat itu hanya mampu melaju 20km/jam, sehingga jarak 10km terasa jauh dan lama. Apalagi melewati jalanan panjang nan gelap dengan sawah di kiri dan kanan jalan. Saya biasanya tertidur atau lebih tepatnya sengaja menidurkan diri karena jalan gelap cukup menakutkan bagi anak TK macam saya. Parit di pinggir sawah nampak lebih gelap, terlihat seperti ular panjang yang meliuk dan mengikuti sepanjang perjalanan kami. Karena saya anak bungsu, sering kali hanya saya saja dari lima bersaudara yang dibawa bapak ibu bepergian.

Dan hari ini, saya kembali merasai buah ini, hasil kebun dari halaman rumah simbah. Meski sejak kecil saya kurang menikmati buah ini karena lebih suka rambutan, meski kini rumahnya sudah tidak ada dan meski segala umbi - umbian juga sudah sirna, berganti dengan lapangan voli untuk aktivitas warga, namun ada 2 pohon sawo yang kerap masih membagikan kenangan itu kepada kami.

Rasa manis, tekstur lembut dan aroma wanginya seakan mesin waktu yang membawa ke sebuah kampung sederhana, orang - orang bersahaja dan penuh cinta.

Al Fatihah buat simbah kakung, putri, bapak dan ibu tersayang

Miss you as always


Maguwo di Juni 2026

Komentar

Postingan Populer