Menekuk Tanpa Menjadi Patah

Siapa yang bisa lupa dengan tsunami Aceh, Minggu 26 Des 2004. Musibah yang diawali gempa mega thrust 9.3SR, disusul gelombang tinggi meluluh lantakkan daratan Aceh. Banyak yang bilang peristiwa ini sebagai bencana alam paling mematikan di abad 21

Bencana ini terjadi di saat sebagian orang sedang merayakan libur Natal dan Tahun Baru. Para penyelenggara acara saya yakin juga sedang sibuk mempersiapkan event pergantian tahun. Sebuah akhir tahun yang sibuk, seperti layaknya akhir tahun. 

Demikian juga dengan saya sebagai staff marketing communication sebuah perusahaan telco, yang belum genap setahun bertugas.

Konsep dan proposal event akhir tahun sudah diajukan sejak awal November. Ada 5 event di tempat yang berbeda. Dua event diinisiasi oleh perusahaan sendiri dan tiga event berupa sponsorship.

Event pertama berlokasi di kantor Banjarmasin, event kedua di kota tetangga, Banjarbaru, 30an km dari kantor. Kota kecil yang dinamis, bahkan menjadi ibukota Kalimantan Selatan saat ini. 

Untuk 3 event sponsorship, saya percayakan kepada panitia, namun saya mewajibkan ada dokumentasi yang dikirimkan 

Ketika kabar bencana alam ini viral dan disusul keputusan pemerintah untuk meniadakan acara tahun baru sebagai bentuk empati atas musibah tersebut, langsung kepala ini berputar. What should i do?

Dengan waktu tinggal 5 hari, nyaris semua keperluan event sudah fixed. Lokasi sudah dibayarkan sewanya, materi promosi sudah naik cetak dan terpasang, berbagai keperluan sudah dipesan dengan down payment , termasuk para pengisi acara yang tiba2 jadi artis di pergantian tahun dengan jadwal tampil padat 

Di saat kebingungan, seorang kolega yang kebetulan menjadi partner event mengajukan ide brilliant. Konsep awal adalah liga basket dengan hiburan band, dancer dan aneka kehebohan layaknya pesta tahun baru. 

Semua ditinggalkan, diganti menjadi penggalangan dana sebagai inti acara. Hingar bingar musik berubah menjadi pembacaan puisi diiringi musik biola dan play back sound music syahdu. Saya ingat Josh Groban dengan You Raise Me Up nya lagi ngehits waktu itu

Lampu PAR, spot light, moving head dll diganti menjadi ratusan lilin yang mengiringi kegiatan malam itu.

Untuk urusan perizinan, karena beliau adalah pejabat dengan jabatan lumayan berpengaruh, maka bukan menjadi kekhawatiran. Entah jurus apa yang beliau pakai karena waktu itu ketat sekali perizinan mengumpulkan massa di tahun baru. I don't think bisa approve jika maju sendiri. Tks, Mr

Well, all is well 

Concern saya pada saat itu adalah pada event ini karena budget yang dialokasikan cukup besar. Untuk event di kantor tidak terlalu masalah karena tak banyak melibatkan pihak luar, hanya internal karyawan. Sementara 3 sponsorship lainnya menjadi urusan panitia 

Kejadian ini mengajarkan hal yang tidak saya peroleh di bangku kuliah bahkan di puluhan training yang pada nantinya akan diberikan perusahaan 

Bagaimana kita menghadapi tantangan, apakah perlu melompat, merangkak, berbelok, berlari..semua disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Bahkan jika mungkin pada akhirnya harus berhenti dan berbalik arah. That's fine . Yang kita perlukan hanya membengkok, tanpa menjadi patah, bend not break. Menjadi adaptif dan fleksibel

Would like to say tks sebesar2nya kepada beliau, yang berkenan menjadi sahabat, mentor, teman diskusi dan sekaligus teman berbagi, yang telah banyak mengajarkan segala hal bahkan setelah kepergiannya. Al Fatihah 


RSA UGM, 29 Des 2025

21 tahun tsunami Aceh , 21 tahun perjumpaan, tanpa pernah benar2 berpisah

Happy belated day, hantu beramian 







Komentar

Postingan Populer