Beware G*y Pedofil Di Sekitar Kita
Jika kamu menganggap warung makan kecil di sebuah jalan kecamatan yang tak terlalu ramai, adalah tempat aman buat anak2 dari orang gila bernama pedofil, please don't
Saya punya pengalaman buruk tentang hal ini, yang baru diceritakan oleh bungsu saya ( 12 tahun ), hampir 3 minggu setelah kejadian
Jadi ceritanya kami punya warung makan langganan yang bagi kami cukup nyaman. Dikelola oleh seorang ibu yang sudah lumayan berumur, sendirian. Menunya cukup lengkap dan memenuhi beragam selera kami. Ada ayam geprek, bakso, soto, mie ayam bahkan varian snacknya juga cukup menggoda, terutama lumpia dan bakso gorengnya yang mirip gohyong
Nyaris tiap minggu kami jajan di sana meskipun kadang hanya membungkus bakso gorengnya.
Suatu malam, saya hanya berdua dengan si bungsu yang lagi pngen lumpia. Berangkatlah kami kesana sekitar jam 20.30. Meski di pinggir jalan kecamatan, warung ini berseberangan dengan rumah sakit kecil yang cukup ramai sehingga kami yakin meskipun sudah cukup malam, warung ini pasti masih buka
Sesampai di warung, saya drop si bungsu dan order menu ke ibu warung tanpa turun dari motor. Saya bergegas menyeberang ke atm di parkiran rumah sakit. Tidak sampai 10 menit saya sudah sampai kembali ke warung dan bergabung dengan si bungsu yang lagi minum es teh. Pesanan saya es jeruk tawar juga sudah siap di meja
Semua looks fine, si bungsu asik makan ayam geprek dan saya hanya ngemil lumpia. Sampai pulangpun kami masih tertawa dan mengobrol sepanjang jalan
Hingga 2 hari lalu atau sekitar 3 minggu setelah kami makan di sana, saya menawari si bungsu untuk makan lagi di sana. Karena dia lagi bingung mau makan apa dan ibunya sedang tidak memasak. Saya usulkan warung itu juga karena udah cukup lama kami tidak kesana
Dengan bergetar dia menjawab bahwa dia tidak mau lagi ke warung tersebut karena ada bapak - bapak aneh yang menyapanya ketika saya tinggal ke atm
"Dia bilang, miskin ya kok pesannya es jeruk tawar,"
Bungsu saya merasa tidak nyaman dengan hal tersebut. Apalagi menurutnya si bapak terus memandanginya selama dia di warung bahkan saat membayar dan kami berada di motor.
Saya menyesal meninggalkannya meski hanya 10 menit ke atm. Meskipun saya udah kenal baik dengan Ibu pemilik warung, namun hal tersebut ternyata bukan jaminan
Saya juga menyesal tidak waspada dan peka dengan kondisi warung. Posisi duduk kami di pojok, dengan pandangan mata saya ke si bungsu yang berada di depan saya. Di belakang dia adalah tembok, sementara dari sisinya, dia bisa menghadap saya dan bisa melihat semua pengunjung yang ada di belakang saya.
Saya yakin dia paham kenapa saya dan kakaknya bahkan hampir di semua keluarga besar kami selalu memesan minuman tawar ketika sedang makan di luar. Dan rata2 warung tidak membedakan harganya. Kami juga jarang menyebut tawar saat membayar untuk meminta harga berbeda. Beberapa warung kadang justru mengingatkan dengan bertanya "tadi tawarkan minumnya bu?"
Yang saya khawatirkan justru hal lain yang dengan susah payah saya coba jelaskan
"Iya ibuk, aku paham kok hal begituan,"
Demikian komentarnya di sela penjelasan saya yang mungkin agak kaku.
Akhirnya saya tetap ajak dia ke warung tersebut, dengan janji saya tidak akan melepaskan pandangan kepadanya dan jika ada bapak itu lagi, saya minta ditunjukkan dan akan siram mukanya dengan es jeruk tawar.
Dengan tersenyum dia mengiyakan dan wajahnya nampak lega setelah mengungkapkan semuanya
Maafkan ibuk ya nak
Maguwo
( Jelang pindah rumah )



Komentar
Posting Komentar