MBG .."Makan Bareng2, Guys"
Awal Mei 2026, finally sekolah anak bungsu saya mendapat jatah MBG. Setelah wacana yang panjang sejak program ini diluncurkan 6 Januari 2025. Maklum meski bukan sekolah swasta, sekolah anak saya sudah sejak lama punya program makan bersama. Ada iuran bulanan bagi mereka yang menghendaki anak - anaknya makan bersama di sekolah. Bukan menjadi program wajib karena kata 'wajib" untuk program tambahan di sekolah negeri adalah momok dan bom waktu.
Namun mayoritas anak mengikuti program makan ini. Yang tidak ikut, tetap wajib memakan bekalnya di kantin, bareng dengan teman - teman yang ikut program makan.
Program makan bersama di sekolah ini punya tujuan mulia, menurut saya. Mengenalkan aneka jenis menu lokal kepada anak - anak. Soto, sayur asem, rawon, oseng2, orek tempe, lele goreng dll menu tradisional. Selain itu guyup rukun anak2 makan bersama menjadi nilai tambah. Tidak ada kantin yang menjual makanan. Ada beberapa warung di seberang sekolah, namun Pak Satpam gercep mencegah anak2 keluar dari lingkungan sekolah.
Mungkin hal ini menjadi pertimbangan program MBG lambat masuk ke sekolah anak saya. Sehingga baru 1.5 tahun kemudian tercapai kesepakatan. Itupun setelah melalui beberapa kali polling dan diskusi
Di polling saya termasuk ortu yang menerima program MBG ini dengan catatan pada pelaksanaannya bekerja sama dengan kantin sekolah. Namun pada akhirnya tidak bisa demikian. Program makan sekolah tetap ada, MBG masuk menjadi makan pagi jam 09.00 menggantikan snack pagi dari program makan sekolah
Ada beberapa ortu kritis yang menolak program ini. Meski saya sering mengritisi program ini, saya tetap menerimanya karena bagi saya ini kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana program ini dijalankan, terutama di sekolah anak saya
Dengan berbagai wanti - wanti ke anak agar sebelum makan untuk "mencium" dulu aromanya dan "meraba" teksturnya. Jika ada yang mencurigakan, bisa lapor dulu ke wali kelas yang alhamdulillah selalu mendampingi saat sesi makan
Sejauh ini komen dari anak saya adalah tentang rasa yang hambar dan aneh. Misalnya ayam goreng tepung yang lebih mirip bakwan keras disi sedikit daging ayam. Atau lele dengan rasa aneh ( padahal anak saya pecinta lele).
Subjektif sekali pastinya ya. Jika mau digeneralisir harus dibuat evaluasi melibatkan banyak anak.
Btw, evaluasi ini menurut saya penting sekali. Saya tidak tahu apakah program MBG ini sudah membuka wadah kritik saran sebagai bahan evaluasi
Karena di sekolah anak saya, selain kualitas masakan yang kurang, sebenarnya program ini terlalu dipaksakan dengan mengambil jam makan berat pukul 09.00. Saya rasa anak2 sudah sarapan sebelum berangkat sekolah dan sudah adanya program makan mandiri dari sekolah menjadikan program MBG ini menjadi tumpang tindih
At least jika saya mau ikut kumpulan Ibu Berisik yang sering menyuarakan kritik tentang MBG ini, saya sudah mengalami langsung melalui anak saya. Bukan hanya karena membaca beragam kritik dan pendapat di media
Semangat ya Pak Pemerintah, yuk dengerin rakyatmu yang udah mulai kembang kempis ini. Biarkan MBG benar2 menjadi bermanfaat..bukan hanya sekedar Makan Bareng2, Guys.
Entah apa yang dimakan dan siapa yang lebih banyak "makan"
( Masih di ) Maguwo
Sambil nunggu mata ngantuk



Komentar
Posting Komentar