Tentang Kutukan dan Kedurhakaan

Minggu ini banyak celoteh lucu dari si bungsu yang menjadi catatan saya. Kayaknya seru kalau nanti dibaca lagi next entah kapan 

The Curse

Ini adalah pembicaraan malam - malam sebelum tidur. Pillow talk mungkin istilah kerennya. Sebelum tidur memang kami berdua suka random ngobrolin apa saja. Sampai kata "selamat malam, Buk" keluar dari mulutnya, sebagai tanda closing

Malam itu kami membahas tentang dia yang susah banget bangun pagi. Sampai ibuknya 10 oktaf, masih keukeuh merem. Melek sebentar, ditinggal ke dapur udah balik merem lagi. Berulang kali seperti itu, setiap hari. Udah gedeg, akhirnya saya pake pendekatan lain.

Me : Le, ada yang namanya karma di dunia ini. Percaya nggak?

Le : Maksudnya, Buk?

Me : Yah..apa yang kita perbuat sekarang, kemungkinan akan menuai balasannya entah kapan kelak. Misalnya kamu sekarang kalau dibangunin susah banget, bikin Ibuk ribut tiap pagi. Suatu saat mungkin kamu akan menemui situasi serupa dari anak kamu

Le : Waaaa...ibuk jangan kutuk aku seperti itu, please ( sambil posisi memohon, memeluk dan mata berharap wkwkwk ). Itu curse yang menyeramkan

Me : Kutukan? Curse? wkwkwkwk

Le : Iyaaa...aku takut, please cabut dong Buk

Me : Oke, tapi besok bangun pagi yaa

Le : Oke

Dan nggak lama, dia bilang " selamat malam, Buk"

Padahal biasanya, berjam - jam pillow talk belum akan keluar kalimat closing itu. Rupanya kepikiran juga semakin malam tidurnya, semakin susah bangun pagi, alamat bakalan kena curse hehehhe

Dan ibuknya masih lanjut ngakak dalam hati 😄


Durhaka

Sebuah pembicaraan sore hari di atas laju motor di jalan sepi, sawah di kanan dan kiri

 Me : Le, misal ibuk jadi ibuk yang suka banding - bandingin kamu dengan Si A, Si B, terus menuntut kamu harus begini begitu sesuai keinginan Ibuk, kira - kira kamu gimana?

Le : ( lama terdiam tak ada komentar )

Me : Le, denger nggak ibuk nanya apa?

Le : Iya

Me : Trus? ( saya meliriknya dari spion,  rupanya dia lagi berpikir dan memilih kata )

Le : Yah kalau Ibuk udah keterlaluan, aku nggak akan inget lagi durhaka. Aku akan membantah Ibuk dan menyampaikan pendapatku. Biar aja aku dibilang anak durhaka yang melawan orang tuanya

Me : Wah, kamu paham tentang durhaka kepada orang tua ternyata ya

Le : Iya lah..makanya aku diam aja kalau ibuk ngomel dan marah - marah ke aku

Me : ( oops )

Memang sih, seberapa kencangnya ibuknya marah, ini anak hanya akan diam, menunduk. Kadang bajunya tiba - tiba basah dari air mata yang menetes ke bawah. Tapi nggak pernah sama sekali membantah. Duh jadi sedih kalau inget

Ternyata hal itu karena dia ingat prinsip durhaka yang dipahaminya. Padahal ibuknya fine aja jika dia mendebat, membela diri dan menjelaskan apapun alasan yang dia mau sampaikan. Selama ini saya berpikir jika diamnya ini karena khawatir jika omelan ibuknya tambah panjang jika dia membalas. Atau karena dia lagi mode bisu dan tuli, berusaha mengabaikan kata - kata yang keluar dari ibuknya.

Tiba - tiba saya ingin memeluknya erat, tapi ya nggak mungkin wong dia membonceng di belakang, sementara posisi badan juga mengharuskan saya menghadap depan dan tangan juga harus pegang stang sepeda motor.

"Maafin Ibuk ya Le, Ibuk selama ini kalau marah itu karena Ibuk kecewa. Ibuk kadang terlalu berharap tapi kurang menyiapkan diri jika hasilnyay tidak sesuai harapan. Ibuk tidak pernah marah karena benci kamu. Justru sebaliknya. Tapi cara ibuk memang salah. Kita sama - sama belajar lagi ya. Ibuk juga nggak mau jadi ibu yang durhaka ke anaknya" 

Dia mengeratkan pelukannya. Tangan mungilnya pas melingkar ke pinggang saya yang cukup melebar akhir - akhir ini. Perlahan saya ambil tangan kirinya menggunakan tangan kiri saya. Saya kecup pelan dan eratkan kembali ke pinggang saya.

Langit Biru, anakku yang lembut dan penyayang, stay santun dan bijak ya Le

Tiap hari ibuk belajar sesuatu darimu. Makasih ya 💓



 


Komentar

Postingan Populer