Sebuah Obrolan di Warung Mie Ayam

" Ibuk, kenapa semua dosen dalam awal - awal pengantar matkul selalu bilang untuk bersiap banyak membaca. Jika kalian tidak suka membaca, berarti salah jurusan."

Curahan hati si maba gantengku yang baru menjalani kuliah di awal minggu. Wew. Senja yang syahdu di warung mie ayam di tengah persawahan di Sleman, ditimpali batuk yang sedang mengganggu bakalan makin seru dengan prolog si 18 tahun di depanku.

Saya bisa membaca arah pikirannya, yang menyiratkan kurang suka akan kenyataan itu. Saya coba diam sejenak, menyusun kata yang saya harap bisa menenangkannya sekaligus memberi semangat.

Alamat semangkuk mie ayam di masing - masing tangan kami, bakalan menjadi pendengar bisu.

Ini adalah hari ketiganya menjalani kehidupan di kampus. Di jurusan yang menurut saya keren sekali. Filsafat. 

Sebuah jurusan yang menurut saya bagus sekali untuk mengasah nalarnya, membiasakannya untuk berpikir mendalam, menganalisis, berpendapat dan berargumen. Sebuah dasar yang kuat untuk membentuk karakter dan menjalani apapun pilihan hidupnya nanti.

Di tempat yang sama, minggu sebelumnya, kami sudah membahas hal serupa. Topik kami waktu itu adalah seorang penulis ulung adalah pembaca yang baik. Kami membahas pentingnya membaca untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi. Selanjutnya bagaimana hal ini akan dibawa, entah untuk diolah lagi menjadi tulisan atau disampaikan kepada orang lain secara lisan. Intinya tanpa mengetahui sesuatu yang patut kita ketahui, kita menjadi "tidak keren". 

Saya mengambil contoh bagaimana dia bisa nimbrung ke berbagai kalangan bahkan kelompok ronda bapak - bapak di perumahan pakdhenya di Jakarta yang terdiri dari bapak - bapak kantoran. Tanpa pengetahuan yang dia peroleh dari apapun caranya, tentu tidak akan bisa nyambung. Kemudian juga ketika dia selalu menjadi jubir alias tukang presentasi dalam kelompok - kelompok diskusi baik di SMP maupun saat SMA.

Saya tidak terlalu menekankan membaca dalam hal ini berupa membaca buku atau karya tertulis lainnya semacam paper, jurnal, essay dll. Karena saya tahu untuk saat ini kehendaknya ke arah itu masih sangat kurang. Dia lebih senang menikmati membaca secara visual melalui Tiktok, infografis di instagram maupun berita - berita singkat di media online. Sesekali mengikuti threads di twitter. 

Saya ingin dia enjoy dengan apa yang dilakukannya dalam mencari informasi selama ini. Saya mengapresiasi effortnya untuk mendapatkan informasi, mesti tetap harus bijak dalam menerimanya. Itulah perlunya "berfilsafat".

Saya tidak mau memaksanya dengan semena - mena harus ini itu. Harus membaca buku, ikut kelas diskusi, menulis dll. Saya mau dia melakukannya di saat yang tepat karena dorongan dalam dirinya. Karena ada kebutuhan akan hal itu. Saya rasa semua ada tahapan dan prosesnya.

Jadi ketika dia curhat bahwa semua dosen mendorong hal yang sama, yaitu membaca, saya ketawa ngakak.

"Wah ibuk cocok juga jadi dosen ya Le, omongannya udah sama kayak dosen - dosenmu."

"Iya, Buk," jawabnya sambil ketawa juga.

Kami melanjutkan obrolan sambil menambah es teh tawar, karena ternyata segelas tidak cukup untuk menemani mie ayam, pangsit, bakso dan gorengan. Ya ampun gembul amat. Si adik tidak banyak komentar, asik makan sambil main HP. Tapi biasanya di lain waktu dia akan mengomentari apa yang diobrolkan kakak dan ibuknya. Pendengar yang pasif tapi di saat lain bisa mengejutkan dengan pertanyaan - pertanyaan seputar obrolan yang tidak secara aktif diikutinya.

"Membaca tidak harus berupa membaca tulisan Le. Menurut ibuk ada yang namanya membaca situasi dan suasana. Dari sini orang bisa menganalisis dan menyampaikannya kembali baik secara lisan maupun tertulis. Dan ada yang memang berbakat menulis sehingga bisa menuliskannya dengan bagus."

"Oh iya betul,, Buk. Kemarin pas aku ikut kelas belajar menulis di Pijar , mas mentornya juga bilang begitu. Penulis yang baik adalah pembaca yang bagus, tapi kadang tidak selalu begitu."

"Btw aku jadi tertantang, Buk. Kami yang dibilang kurang membaca ini bisa melakukan gebrakan yang mengejutkan. Bahkan mungkin tanpa membaca.,,hahaha.."

"Aku pengen membuktikan kalau angkatanku sekarang ini beda. Kami bukan anak filsafat yang katanya aneh, kucel. Bahkan ada image cabul gara - gara ada kakak tingkat yang ketahuan ngerjain 8 cewek."

Hmm...tetiba saya jadi teringat masa - masa bergaul bersama anak - anak Sastra, Filsafat dan Fisipol di sekitar 96 - 98. Ghirah membara dalam orasi, demo - demo hebat, debat, persahabatan dan sedikit bumbu romansa.

Kayaknya saya harus bersiap bahan untuk diskusi - diskusi lainnya yang tak kalah seru. Menggali dari masa lalu dan browsing masa kini.

Bisa ya dek yaaa..





Komentar

Postingan Populer