Berbaik Sangka Saja

Hadits dari Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Siapa yang berbakti kepada orang tuanya, dia akan mendapat keberuntungan dan Allah SWT akan menambah panjang umurnya.” (HR Bukhari, Abu Yala, Thabrani, dan Hakim)

Pernah baca atau dengar hadist tersebut?

Sekedar baca atau dengar, saya pernah. Tapi bersentuhan langsung dengan maknanya, saya mengalaminya baru - baru ini. Mungkin dulu pernah atau bahkan sering, tapi saya tidak paham. Tapi kejadian beberapa hari lalu, benar - benar menyentak hati saya.

Awal Juli, ketika libur sekolah masih sekitar 10 hari, kami bertiga bermaksud ke Bandung, transit dulu di Jakarta, kediaman kakak saya, kemudian berangkat bersama - sama. Suami tidak bisa mengantar karena kesibukan, sehingga kami memilih angkutan umum sebagai sarana perjalanan. Pilihannya antara bis atau kereta api.

Setelah menimbang plus minusnya, kami memutuskan naik bis. Agen tiket di Terminal Prambanan menjadi pilihan kami. Sebulan sebelumnya kami juga ke Jakarta, tapi via agen bis di Terminal Jombor. Karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan di pagi - siang hari, saya memutuskan Terminal Prambanan karena bis yang melewati terminal ini lebih sore, setelah mengangkut penumpang dari Jombor dan Giwangan.

Siang yang panas, kami akhirnya bisa mendapat 3 tiket bis. Bersaing dengan kerumunan rombongan keluarga yang sepertinya mau liburan juga. Nyaris tak ada kursi kosong di tiap agen bis. Semua terisi penumpang yang sudah bertiket dan siap berangkat, maupun yang sedang mencari tiket seperti saya.

Saya merasa sudah memperhitungkan semuanya. Di pikiran saya, pekerjaan kelar, urusan nemenin anak - anak liburan juga beres. Tapi dalam hati tetap ada kebimbangan dan rasa ragu, berangkat atau tidak?

Malamnya, semua terjawab.

Kakak saya mengabari jika kondisi ibu memburuk. Simbahnya anak - anak ini tiba - tiba ngedrop di level terbawahnya. Tidak bisa bangun sama sekali dari tempat tidur. Jantung anak mana yang tidak berdegup kencang mendengar kabar seperti ini. Segala pikiran dan rasa berkecamuk, bermuara ke satu hal. Apakah ini saat terakhir beliau?

Akhirnya mendadak rapat keluarga. Saya coba sampaikan beberapa alternatif ke anak - anak dan meminta pengertian mereka bahwa ibunya adalah anak dengan posisi terdekat bagi simbahnya. Dan sekarang simbah sedang memerlukan bantuan. Saya sampaikan juga kemungkinan terburuk, tidak jadi liburan ke Bandung. Liburan diusahakan tetap ada, namun tempatnya disesuaikan dan melihat kondisi simbah.

Saya sudah tidak berpikir tiket yang sudah terlanjur beli. Tetap saya usahakan refund, tapi jika tidak berhasil, ya sudah saya ikhlaskan. Dan alhamdulillah masih rezeki saya.

Proses merawat Ibu, alhamdulillah berjalan lancar. Anehnya, Ibu mendadak sehat, membaik dengan cepat. Segala doa kami panjatkan atas hal tersebut. Betapa kami berterima kasih kepada Allah, Tuhan kami yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada Ibu dan kami semua. 


Waktu berlalu

Awal Agustus, suami memberi kabar buruk bahwa teman kuliahnya ( sebut saja A ) membawa kabur mobil teman suami saya ( sebut saja B ). Si A ini pada awal Juli lalu menelepon suami saya, mau meminjam mobil. Posisi suami saya waktu itu menemani saya mengurus Ibu saya yang sakit. Dan mobil diperlukan untuk standby mengantar ibu ke rumah sakit. Akhirnya suami saya merekomendasikan untuk menyewa mobil si B.

Dan dari sini lah bencana terjadi. Si A ketahuan menggadaikan mobil si B tersebut. Suami saya tentu saja tidak enak kepada si B. Dengan berbagai upaya, akhirnya mobil bisa kembali kepada si B. Alhamdulillah

Saya tidak terbayang bagaimana keadaanya jika Ibu saya tidak mendadak sakit dan kami bertiga ke Bandung meninggalkan suami sendiri di rumah. Saya 1000% yakin suami akan meminjamkan mobil kami ke si A. Meskipun saya sering cemberut jika temannya meminjam mobil. Berulang kali saya mengingatkan untuk waspada meskipun terhadap teman sendiri.

Allah Maha Baik, dengan memberikan kami anak - anak yang luar biasa baik dan memahami kondisi serta situasi di sekelilingnya. Allah memberi kami perlindungan melalui ibu yang mendadak sakit. Kami awalnya tidak paham, bingung, anak - anak kecewa, tapi akhirnya mendapat pelajaran bahwa kita hanya perlu berbaik sangka terhadap segala sesuatu yang menjadi ketentuan Allah. Berbaik sangka saja kepada Allah. Insya Allah selalu ada hikmah.





Komentar