KISAH TERIK DAGING SAPI

Namanya terik.

Olahan daging dengan rasa gurih, manis dan wangi rempah sederhana, tak sekompleks rasa dan wangi rempah pada umumnya masakan ala Sumatera. Selain di rumah ibu saya di daerah Klaten, saya jarang menemukannya di tempat lain. Mungkin karena saya mainnya kurang jauh. Tapi yang jelas, di Banjarmasin, tempat saya numpang hidup 12 tahun, belum pernah nemu olahan ini.

Konon masakan ini merupakan salah satu hidangan khas Solo. Mungkin karena Klaten dulunya masuk Karesidenan Solo, maka beberapa kulinernya berkiblat ke Solo.

Yang pasti jika Hari Raya Idul Adha seperti hari ini, almarhumah Ibu selalu mengolah daging kurban kami menjadi olahan terik.

Always, selalu, tidak pernah tidak

Saya yakin, ibu juga ingin mencoba olahan lain, namun terik adalah expertisenya, ada kepercayaan diri yang tercermin dari hasil terik ibu yang paripurna. Melihat kliping resep, tumpukan panci, aneka peralatan memasak yang masih rapi, sebenarnya ada niat ibu untuk lebih memperdalam masakan. Apa daya kesibukan di sekolahan dan mengurus rumah sekian besar tanpa pembantu, cukup menyita waktu ibu. Mungkin juga karena beliau tidak berhobi memasak, seperti yang selalu beliau bilang, lebih suka bersih - bersih rumah dibanding di dapur

Kadang mulut kecil saya waktu itu dengan jahat bilang bosan, protes, mencela dan segala hal buruk tentang hal ini. Sehingga mungkin karena tekanan yang kurang ajar ini, Ibu pernah mencoba membuat rendang.

Berhasil? Tentu tidaaaakk

Dan akhirnya berlabuh kembali ke terik

Pernah juga ibu mencoba membuat sate. Namun hasilnya keras sehingga akhirnya direbus, dikasih santan dan jadilah terik lagi

Kadang saya dengan tengilnya melipir ke rumah almarhumah simbok yang berada di area belakang rumah ibu, untuk menyicipi olahan daging kurbannya. Simbok adalah pengasuh saya ketika kecil, sewaktu ditinggal Ibu mengajar. Simbok adalah wanita setengah baya, lebih sepuh dari Ibu. Selain mengasuh saya dan beberapa kakak saya, beliau juga memasak untuk keseharian kami. Dan akhirnya beliau membuka warung sarapan hingga akhir usianya.

Di masa Hari Raya Idul Adha, olahan daging simbok lebih beragam. Kadang gulai, kadang rica pedas, kadang juga semacam bumbu merica dengan paduan manis gula jawa. Bumbu merica ini biasanya jika suami simbok, Pak Nar, mendapat kepala dan kaki kambing, upah menjadi asisten jagal.

Ibu beralasan bapak saya suka olahan berkuah, sehingga ibu membuat terik. Bagi Anda yang belum tahu terik, saya berikan gambaran singkatnya. Jadi si daging ini dipotong tipis agak melebar, diungkep dengan bumbu halus dari bawang putih, brambang, ketumbar, miri, merica dan gula jawa. Setelah mendidih dan daging agak empuk, siram dengan santan encer. Tunggu sampai daging empuk, lalu masukkan santan kental, kasih daun salam dan laos geprek. Makan dengan nasi hangat, kerupuk dan sambal bawang. 

Olahan ini hanya setahun sekali kami nikmati. Di hari biasa, jika kepengin terik, ibu atau simbok membuat dalam versi light, yaitu terik tahu dan tempe. Jadi bisa dibilang terik daging adalah masakan istimewa bagi kami sekeluarga, yang kadang saya cela dengan alasan bosan. Alasan yang absurd.

Ketika sudah kuliah, saya bersahabat dengan banyak teman dari Sumatera. Dari mereka saya baru mengerti jika untuk membuat rendang, perlu berliter santan kental dan berjam - jam waktu memasak untuk menghasilkan tekstur rendang yang smooth, glowing dan creamy. Saya langsung terbayang dengan parutan kelapa yang dimasukkan ibu ke daging berkuah santan, sebagai cara instan untuk mendapat kuah kental nan pekat ciri khas rendang.

Alhasil rendang ibu menjadi semacam serundeng daging yang basah.

Dan kembali lagi ibu membuat terik, si menu andalan

TAHUN TANPA TERIK

Semua berawal dari ibu jatuh dan cedera di syaraf punggung, 2021 lalu. Sejak itu, terik daging ala ibu tidak pernah lagi kami nikmati karena kondisi kesehatan ibu yang terus menurun

Setelah 40 tahun lebih menu ini selalu terhidang di meja makan kami saat Hari Raya Idul Adha, kini hanya tinggal kenangan. 

Me-recook menu ini pun rasanya tetap ada yang kurang. Terik ibu adalah ter-the best. Ada cinta dan kasih sayang, romantisme seorang istri dengan mempersembahkan hidangan favorit sang suami, serta keinginan memberikan hidangan istimewa setahun sekali kepada kami anak - anaknya. 

Ingin rasanya kembali ke masa dulu, dan menampar mulut kecil itu ketika ia bilang bosan dan mencela masakan ibu. Ingin berteriak di hadapan sosok perempuan kecil yang tengah membantu ibu membuat terik di hari itu, "Heiiiii, bersyukurlah terhadap apapun yang telah diberikan wanita hebat ini, yang telah berjuang dan berusaha yang terbaik untuk semua yang menjadi tanggung jawabnya!"


Ibu, maafkan saya

Matur nuwun untuk semua hal yang telah ibu berikan 


Maguwo 060625

Tahun pertama lebaran Idul Adha tanpa ibu 




 

 

Komentar

Postingan Populer