SEBUAH OBITUARI ( Yang Baru Ditulis 5 Hari Kemudian )
Lima hari yang lalu,
Duniaku nyaris berhenti seiring berhentinya helaan nafas ibuku, senja itu. Di antara denyut bunyi beragam mesin pendukung hidup di ruangan dingin yang berisi 8 pasien yang sedang memperjuangkan ruhnya agar tetap bersatu dengan tubuh, aku duduk kaku di atas kursi plastik biru, di samping ranjang ibuku. Dengan bola mata yang berpindah cepat antara muka ibuku yang terpejam damai dengan layar monitor ICU. Berharap Allah masih memberikan kesempatan dan menghidupkan layar kotak di depan mukaku untuk kembali menampilkan angka dan mengubah garis lurus menjadi grafik naik turun.
Dua perawat yang sibuk memasang alat monitor di pergelangan kaki dan tangan ibu, nampak tidak bisa berbuat banyak. Hari sebelumnya kami sudah menandatangani berkas bahwa jika kondisi ibu memburuk selepas pencopotan ventilator, maka pihak medis tidak bisa berbuat banyak karena tubuh ringkih dan renta perempuan kesayangan kami ini bakal tidak sanggup menerima hentakan proses CPR ( cardiopulmonary resuscitation ). Beberapa kali mereka minta kami berdoa untuk ibu, sebagai upaya terakhir
Selalu Kembali Ke Rumah
Saya dulu kurang percaya dengan perkataan orang yang bilang bahwa orang tua tidak akan mau tinggal di rumah anaknya. Mereka memilih bertahan di rumah sendiri apapun kondisinya. Mungkin tidak semua, tapi mayoritasnya demikian. Dan ternyata ibu saya termasuk golongan mayoritas ini. Baru sejam di rumah saya, sudah minta pulang. Jika sudah tak tertahankan, beliau tertatih namun penuh tekad, berjalan meninggalkan rumah saya. Anak mbarep saya biasanya yang menyusul, mengajaknya pulang kembali. Momen yang dulu mengesalkan ini ternyata sangat saya rindukan saat ini.
Mungkin bagi para sepuh ini, rumah adalah saksi hidup mereka. Tempat segala duka dan cita berpadu. Apalagi jika pasangan hidup, teman berjuang sudah lebih dahulu meninggalkan, rumah bagaikan pengganti kekasih yang hilang. Atas hal tersebut, akhirnya kami mengalah dan mencoba mencari solusi agar ibu nyaman berada di rumah, terutama mencari pramurukti yang amanah. Dan ini bukan hal yang mudah, perlu lebih dari 2 tahun. Ada 3 kali jatuh yang mengakibatkan berbagai luka. Semua saya tuliskan di sini sebagai pengingat, dan entah kenapa selalu di bulan Februari. Bahkan bapak saya pun meninggal di bulan Februari, tepatnya 18 Feb, 30 tahun lalu. Saya agak tenang ketika bisa melalui Februari 2025 tanpa ada kejadian terkait ibu, namun siapa sangka itu adalah Februari terakhir bersama ibu.
Hingga akhirnya 1 Desember 2024, kami dipertemukan dengan seseorang yang begitu sabar dan telaten mendampingi ibu. Kesabarannya merawat ibu dan menghadapi pertanyaan ibu yang itu - itu saja dan selalu diulang tiap habis selesai dijelaskan, sungguh patut mendapat semua jempol di dunia ini.
Teguh Hati, Bertekad Kuat, Pejuang, Mandiri dan Peran Mentor
Ibu sering bercerita bahwa perjuangannya menjadi guru tidak mudah karena berasal dari keluarga petani di desa kecil yang untuk bersekolah agak layak di kecamatan pun perlu usaha yang tidak sedikit. Bangun shubuh untuk membantu uwanya ( kakak dari ibunya ) untuk membuat aneka makanan tradisional seperti enting - enting, peyek, ampyang, dll kemudian membawanya sebagian untuk dijual ke sekolah sebagai cara untuk mencari biaya sekolah. Menempuh perjalanan berjalan kaki sekitar 45 menit sambil membawa barang dagangan, kadang kala membuatnya terlambat sampai di sekolah, Sekolah Rakyat Perempuan ( SRP ) yang kala itu berlokasi di kantor kecamatan, dekat dengan rumah ibu saat sudah berumah tanggga dengan bapak. Ibu kadang meratap, "duh Pak, aku mbok bawa kesini, urip neng kutho, tapi kok terus mbok tinggal ( meninggal )."
Rutinitas berjuang mencari biaya sekolah ini berlanjut hingga beliau melanjutkan ke Sekolah Kepandaian Putri ( SKP ) di Solo. Menurut saya part ini adalah bagian heroik dari perjalanan sekolah ibu. Bergantung pada sepur yang hanya punya satu jadwal keberangkatan, otomatis jika ada sesuatu maka konsekuensinya harus berjalan kaki melintasi rel kereta sejauh lebih kurang 20km sambil membawa dagangan. Beliau bilang, sering lihat bahkan tersandung kepala yang terpisah dari badan, sisa orang suicide atau mungkin juga kejahatan, entahlah.
Mungkin Allah mulai berbelas kasih atas segala tekat beliau untuk menjadi guru, hingga momen heroik selama menjalani sekolah SKP, nasib membawanya dekat dengan keluarga Pak Amin Rais karena salah satu guru di sekolah tersebut adalah ibunda Pak Amin Rais, yaitu Ibu Suhud Rais yang kadang meminta dikerokin oleh ibu. Entah karena kasihan atau memang ibu beneran bisa mengerok badan. Karena waktu kecil, saya paling takut dikerokin oleh ibu hehehe, lebih memilih dikerokin simbok, perempuan paruh baya yang membantu di rumah kami.
Yang pasti berkat keuletan mencari biaya sekolah baik dari jualan maupun membantu di rumah Ibu Suhud Rais, ibu berhasil lulus dan menurut penuturan beliau, keluarga Rais sangat menyupport keinginan beliau untuk menjadi guru dengan meminjamkan banyak buku saat mau ujian guru dan mengarahkan harus bagaimana.
Tanpa mengecilkan peran keluarga simbah ( orang tua ibu saya ) yang petani di kampung, yang pekerja keras namun tak melalaikan kewajiban lima waktunya bahkan membuat sebuah langgar/musholla yang membuat beliau sempat ditarget oleh PKI yang waktu itu memburu ulama, sungguh rezeki yang tak ternilai mendapat mentor dari keluarga hebat seperti Keluarga Rais, hingga cita - cita ibu dapat terwujud. Berhasil membuktikan bahwa dengan tekat kuat, usaha dan berdoa, tidak ada hal yang tidak mungkin. Dari 8 bersaudara, ada 3 orang yang menjadi PNS. Selain ibu saya ( anak ke-5 ), ada 2 adik beliau ( nomor 7 dan 8 ) yang berhasil menjadi pegawai.
Cerita - cerita beliau ini telah divalidasi oleh sahabat beliau sejak SRP hingga SKP, seorang pensiunan guru agama yang masih sehat, tanpa pikun sama sekali dan sat set lincah meski telah berusia lebih dari 80 tahun, yang datang berta'ziah sehari setelah wafatnya ibu. Sungguh rezeki bertemu beliau yang selalu disebut oleh ibu saya semasa masih hidup. Ada secercah raut bahagia di tengah wajah keriputnya yang termakan demensia ketika ibu menceritakan tentang sahabatnya ini. Karena ternyata memang sedekat itu mereka berdua.
Saya membayangkan dua perempuan mungil yang punya impian sama, menjadi guru, mengejarnya dengan susah payah dengan segala keterbatasan pada jaman itu. Lain kali mungkin saya akan bertanya kepada beliau tentang kisah perjumpaan bapak dan ibu. Kisah seorang pemuda yang menjadi penggerak di sebuah kampung, menjadi perintis, guru sekaligus kepala sekolah sebuah madrasah, yang kemudian jatuh hati kepada perempuan kampung tempatnya mengabdi.
Mudik, Lebaran Terakhir Bersama Ibu
Tahun ini, lebaran jatuh serentak pada hari Senin, 31 Maret. Saya sekeluarga mudik pada hari Jumat. Membantu membersihkan rumah dan kamar untuk persiapan kakak - kakak yang juga akan mudik, tapi masih hari Minggu dan hari Senin ( setelah sholat Ied ). Selama Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, saya kebagian menjaga ibu karena mbak pramurukti baru mudik. Begadang bersama ibu ditemani oleh mbarep saya yang sangat dewasa dan pengertian, meski sesekali kami juga mengeluh karena disorientasi waktu dan delusi ibu yang semakin parah. Jika waktu bisa diputar, ingin rasanya saya kembali ke wktu - waktu itu dan memeluknya erat sekali lagi. Mengelusnya agar tertidur meski hanya 5 menit. Mendengarkan pertanyaan - pertanyaanya yang sama dan selalu diulang setelah selesai dijawab. "aku sopo", "ini rumah siapa", "kowe sopo", "omahmu ngendi", "bapakku sopo", "bapakku kok ora rene" dan pertanyaan - pertanyaan lain di saat masa kecil beliau. Igauan setengah sadar yang menyatakan keinginannya untuk jadi guru.
Di tengah kebingungan untuk mencari cara mudah menjelaskan ke beliau, saya mengambil cermin dan menunjukkan wajah beliau di cermin. Terperanjat beliau melihat. "kuwi sopo" "kok tuo banget" "berarti wis arep mati yo?" Kata mbarep saya, simbah nampak kecewa melihat pantulan wajahnya di cermin. Saya tidak bermaksud mengecewakannya, hanya untuk membantu menjelaskan ketika beliau protes, maido, tidak percaya ketika dijelaskan orang tuanya sudah meninggal, kakak - kakak bahkan adiknya sudah meninggal, kecuali satu orang adik, nomor 6 atau bulik saya. Harapan saya jika simbah sadar beliau sudah sesepuh itu, maka ada sedikit kekuatan juga dalam menghadapi demensianya.
Bahkan pernah, di suatu siang, waktu sedang mengunjungi beliau, ibu berpamitan kepada saya dengan bahasa jawa halus, seperti anak - anak kepada orang tua atau dewasa. Saya menanggapi dengan menyesuaikan dan mengikuti alurnya. Ketika sampai pertanyaan terakhir tentang umur dan beliau jawab 10 tahun, saya langsung memeluk beliau dengan haru dan menjelaskan bahwa ini rumah beliau, beliau sudah sepuh dan lupa.
Dan lebaran tahun ini, saya tidak ikut sholat Idul Fitri karena kondisi ibu yang kurang fit. Kami berdua di rumah, sementara keluarga besar kami seperti biasa menghadiri sholat Idul Fitri di lapangan kota, 500 meter dari rumah ibu. Tahun - tahun sebelumnya, ibu selalu bersemangat ikut sholat Ied meskipun harus pakai kursi roda.
Minggu, 20 April 2025, pukul 17.56
Minggu sore pukul 16.30 kakak dan anak mbarep saya pamit untuk olah raga sore di sekitaran rumah sakit, setelah melihat kondisi ibu yang membaik dan semua organ vital menunjukkan angka positif sejak ventilator dilepas pada Minggu 01.00 dini hari. Saya juga sedang duduk santai menemani anak saya belajar di ruang tunggu, Di kamar ICU, ada mbak pramurukti yang menemani ibu.
Hari itu seharian saya merasa lemas, ngantuk, dan tidak doyan makan. Sejak kakak saya datang jam 07.00 pagi, saya seperti mendapat energi pengganti. Menyerahkan monitoring ibu kepada kakak saya dan saya fokus belajar dengan anak saya, meski lebih banyak ketidurannya saat anak saya sedang mengerjakan latihan soal.
Minggu sore pukul 17.00, dengan wajah panik mb pramurukti meminta saya masuk ke ICU. Saya lihat monitor ICU menunjukkan angka mengkhawatirkan. Nyaris semua di batas bawah, mulai dari detak jantung, saturasi, tarikan nafas maupun tekanan darah. Ibu ngedrop sekali. Dalam waktu 30 menit dari kakak saya pamit olah raga, keadaan berubah 180 derajat. Semakin turun dan tidak pernah naik lagi. Saya ajak ibu untuk terus berkomunikasi dan memberinya semangat. Respon ibu hanya diam, disela tarikan nafas yang semakin melemah dan mata yang menutup rapat.
Lima belas menit kemudian, saya pada akhirnya hanya bisa berbisik "simbah capek? Nggih sampun mboten nopo - nopo jika simbah sudah capek. Istirahat mawon nggih mbah." Saya elus kepalanya seperti saya mengelus beliau di malam Idul Fitri agar bisa tidur malam itu. Saya bisikkan kalimat tauhid dan syahadat di depan wajah beliau, sementara kakak saya yang sudah pulang dari olah raga membisikkan melalui telinga beliau. Perlahan tarikan nafasnya berhenti, tanpa ada kejang atau apapun kondisi yang orang ceritakan saat peristiwa sakaratul maut. Semua terlihat damai dan 17.56 tampilan layar monitor ICU berubah menjadi garis lurus.
Selamat jalan, Ibu. Sugeng tindak menghadap Sang Pencipta. Selamat bertemu dan berkumpul kembali dalam bahagia bersama Bapak. Tepat 30 tahun Ibu sudah kuat sekali menjalani hidup tanpa Bapak. Seorang belahan jiwa yang telah berpulang lebih dahulu.
Selamat berjumpa lagi dengan almarhum/mah mas dan mbak panjenangan, yang 2 tahun terakhir selalu panjenangan tanyakan dalam kepanikan dan kebingungan menghadapi masa disorientasi paska demensia. Selalu teringat dan terbayang di pelupuk mata, wajah resah tak menentu dan gerakan khas ibu merapikan rambut yang kadang terurai tak rapi, menjuntai ke depan telinga dan pipi. Mengambilnya dan menyelipkan di belakang telinga dengan mata yang tak puas dengan jawaban kami semua.
Setelah berbagai hal yang terjadi sepanjang hidup dan beberapanya saya menyaksikan perjuangan beliau dalam menghadapi ujian yang diberikan Sang Maha Pemberi Ujian, akhirnya beliau tertidur tenang selamanya. Menyerahkan segalanya kepada kami yang masih diberi nafas ini.
Bismillah, kami akan teruskan perjuangan Ibu dan Bapak, mewujudkan cita - cita yang belum tercapai dan meneladani semua hal positif yang Pak-e dan Buk-e ajarkan kepada kami. Insya Allah








Komentar
Posting Komentar