Jogja - Banjarmasin Trip With Dharma Kartika ( Part 2 )
Di tulisan sebelumnya, setelah delay 7 jam dan perjalanan 9 jam dari Jogja menuju Surabaya, finally sampai juga di dalam kapal
Kesan pertama? MAKJLEEEBBB
Ternyata dapat kamar yang 1000% bedaaaa dari yang ada di review
Bayangan kami adalah kamar private dengan bed besar untuk 3 orang, wastafel, air minum di galon...realitanya, kami mendapat kamar yang diisi bareng - bareng 12 orang!
Tanpa jendela, apalagi wastafel dan paling sedih, di bed ukuran 2x1,2m yang menjadi "rumah kami" selama 20 jam ke depan ini, tak ada nampak colokan listrik..hiks
Kamar mandi dan toilet udah jelas ada di luar.
Yang masih agak menghibur, untungnya kamarnya pakai AC. Dibalik kesengsaraan atau musibah, biasanya orang Jawa tetap melihat ada satu hal yang dianggap "untung" 😁
Setelah booked bed, menaruh koper dan tas yang isinya kurang berharga ( bagi orang lain ), kami keluar menuju kafetaria di area centre kapal. Cukup tas tangan berisi dompet dan handphone sebagai bekal kami. Kafetaria nampak penuh para penumpang, terutama yang tidak dapat kamar. Selain untuk ngopi, jajan, makan, di sekitar area kafetaria juga ada meja informasi, musholla, barbershop, mini swalayan, ruang baca/perpus, tempat karaoke dan banyak kursi untuk duduk dengan pemandangan lautan dari jendela - jendela besar.
Surprisenya, DLU juga menyiapkan live music dengan pemain organ tunggal dan 2 miss penyanyi yang lincah menyapa pengunjung, apalagi jika terlihat lembaran biru dan merah di tangan para bapak - bapak yang kebanyakan sopir angkutan barang. Sepertinya mereka sudah saling akrab, dari sapaan dan obrolan. Tak jarang para bapak ini juga turut bernyanyi melepas penat sambil sedikit curhat di atas panggung.
Hiburan murah meriah ya Pak Lumayan melepas penat 20 jam berlayar, belum lagi perjalanan darat menuju pelabuhan Surabaya maupun nanti dari pelabuhan Trisakti Banjarmasin ke kota tujuan di Kalimantan Selatan dan sekitarnya
Mata kami cekatan mencari meja dengan colokan. Mepet di jendela besar, terlihat meja putih dengan 4 kursi dan 4 colokan tanpa kepala di tembok. Anteng kami menancapkan 4 kabel data kami di 4 HP yang sudah sedari malam belum terisi sempurna di bus. Sambil menyesap es teh 10rb/gelas, kami membahas kamar yang tidak sesuai ekspektasi.
Di luar laut masih terlihat gelap, ombak yang tenang nampak sesekali mengkilap terkena cahaya lampu pelabuhan. Dari pengumuman kami mendengar bahwa kapal akan diberangkatkan
setelah sholat shubuh, artinya sesuai jadwal awal yaitu sekitar pukul 05.00 pagi. Kami lihat jam masih menunjukkan 4.30. Tak lama adzan shubuh berkumandang. Musholla nampak mulai riuh. Alhamdulillah. Ruangan yang terbatas membuat para jamaah bergantian menunggu giliran sholat. Sambil menunggu musholla agak sepi, kami memanfaatkan sisa sinyal yang masih bisa nyangkut di HP. Browsing sana sini mencari info lebih lengkap tentang kapal ini dan menonton ulang review kapal yang kami tonton sebelumnya. Kami akhirnya sadar, kami berada di kapal yang BERBEDA dengan yang ada di review.
Hahahha...puas kami menertawakan diri sendiri. Jadi ternyata ada 2 macam jenis kapal laut yang melayani rute Surabaya - Banjarmasin PP.
Waktu menunjukkan pukul 05.30 ketika akhirnya saya menuju kamar, selepas shubuh di musholla. 2 lelaki kesayangan masih standby di kafetaria, menunggu baterai terisi penuh.
Entah itu alasan sebenarnya atau karena enggan bersempit - sempit di kamar. Ketika masuk ke kamar, terlihat 9 bed telah terisi penuh penumpang yang sedang lelap.
Perlahan saya naik ke kasur busa berseprai putih yang ternyata lumayan nyaman, menutup tirai dengan rapat sambil mencoba menutup mata. Merasakan kapal yang akhirnya mulai terasa bergetar pelan hingga kelamaan getaran mesin makin kencang terasa di sekujur punggung. Tak sadar, lelap mulai hinggap.
Note :
Sebagai informasi ada dua kapal yang melayani pelayaran Surabaya - Banjarmasin, yaitu Dharma Rucitra dan Dharma Kartika. Dua - duanya di bawah bendera Dharma Lautan Utama. Mungkin masih
ada armada lain, tapi sejauh ini, dua kapal ini yang kami tahu.
Agak sedikit menyesal, karena ketidaktelitian kami saat membeli tiket, namun hingga pelayaran berakhir, hal ini berbalik menjadi rasa ketagihan dan next ketika perjalan pulang kami tetap memilih kapal ini kembali meski ada kesempatan memilih Dharma Rucitra.
Kenapa?
Simak saja terus di Part 3
.jpeg)



Komentar
Posting Komentar