Mbrebes Mili
Malam ini pukul 20.00 hingga sejam kedepannya, saya ada jadwal meeting online dengan kawan - kawan seperbisnisan. Agar fokus dan ( terlihat ) profesional, maka saya berusaha menyelesaikan hal - hal yang sekiranya berpotensi merecoki saat meeting berlangsung. Kan nggak seru kalau lagi on cam tiba - tiba anak nanya PR, atau minta makan, nanya letak minyak kayu putih atau saya yang justru tiba tiba lapar hehehe
All is done ( pikir saya ), hingga datanglah si mbarep dari ngebid shopee food. Iya, jadi driver shopee food. Si bujang semester 3 yang lagi libur ini ceritanya mendapat pinjaman akun shopee dari temennya yang sedang off ngebid. Ngebid adalah istilah mencari pelanggan di kalangan para driver online. Saya tidak masalah dengan aktivitasnya tersebut, hitung - hitung biarlah dia "kuliah" di kehidupan nyata. Mencari uang, mengatur waktu, bersikap dan berinteraksi dengan orang asing ( pelanggan ), bijak saat berkendara dan segala hal lain yang mengikuti selama proses ngebidnya.
Tak disangka, salah satu hal lain tersebut adalah sebuah cerita yang membuat saya meluangkan waktu yang sudah mepet jelang meeting malam ini. Saya pikir ini tidak boleh ditunda untuk saya tuliskan sebagai artefak di blog ini. Ibarat di warung bakso, ketika bakso sudah tersaji, pantang untuk ditinggalkan demi aktivitas lain. Karena apalah nikmatnya bakso yang sudah dingin.
Ceritanya, si mbarep pulang, langsung menghampiri saya dan menyorongkan 2 bungkus plastik pisang kepok rebus.
Me : Apaan ini, Le, dapat dari mana. Kamu kan nggak terlalu suka pisang rebus. Lagian ibuk punya banyak pisang kepok tuh..abis panen dari kebun simbah kemarin
Him : Ini tadi aku beli, melarisi simbah - simbah sepuh yang jualan Buk. Kasian. Barang jualannya masih banyak, ada singkong goreng, tape goreng, pisang goreng. Aku pilih pisang rebus
Me : ( Mendengarkan seksama )
Him : Simbahnya masak manggil aku "Den" dan pakai bahasa halus. Padahal kan panggil aja Le atau mas atau apalah...aku jadi nggak enak
Me : ( masih fokus mendengarkan )
Him : "Den, tumbasi ya Den". Aku kaget, tapi aku menghargai aja soalnya sudah sepuh banget. Trus aku bilang "Nggih mbah, purun,,nopo niki mbah?" Trus simbahnya liatin dagangannya yang ditaruh di tenggok ( semacam wadah cekung besar dari bambu ). Dia langsung ambilin 6 bungkusan plastik, katanya 20ribu aja. Padahal per plastik beliau bilang 5rb
Me : Mbok bilang aja, "simbah ampun boso kalih kulo...kulo tasih alit"
Him : Iya, aku sungkan Buk, simbahnya boso alus banget. Trus aku ambil satu plastik aja, pisang rebus, tapi aku mau bayar 10ribu...eehhh simbahnya nggak mau, aku dimarahi, trus diambilin satu plastik lagi. Padahal kan aku kan mau berbagi
Me : oh mungkin beliau niatnya jualan kak, bukan minta - minta
Him : iya. dan abis aku beliin simbahnya, langsung dapat rejeki loh Buk, ada orderan jauh banget 30ribu lebih
Me : Alhamdulillah. Dimana tadi posisi simbahnya Le, anterin ibuk yuk ( yang terbayang dalam imajinasi saya salah sosok sepuh seperti ibu saya, yang berjalan membawa beban barang dagangan di sore jelang maghrib yang seharusnya menjadi waktu bagi tubuh rentanya beristirahat )
Him : Aduh ibuk besok ibuk kesana aja ya, cari di Indomaret seberang Pamela Purwomartani, soalnya aku mau berangkat ngebid lagi malam ini
Me : Ealah...Iya sayangnya ibuuukkk...proud of you Le. Makasih udah berbagi cerita. Makasih udah bertindak semampu kamu. Semoga simbahnya ketemu lagi orang seperti kamu, agar dagangannya cepat habis ( sambil mbrebes mili )
Him : Aamiin
Well, sebuah cerita yang bagi saya tidak perlu dianalisis panjang lebar. Saya menangkap dan menyimpannya dalam kotak berlabel "bangga" di sudut hati terdalam.
Makasih ya Le. Ceritamu mengguratkan kenangan manis, semanis pisang kepok rebus yang kamu bawa pulang
Alhamdulillah 20.04
Saatnya bergabung meeting



Komentar
Posting Komentar