Lesson To Learn ( Lagi )
Apa yang menyebabkan ketakutan dan kekhawatiran?
Apakah masuk akal jika penyebabnya karena ketidaktahuan kita atas hal yang membuat kita takut dan khawatir sehingga memicu kita untuk berpikir berlebihan alias overthinking ?
Contohnya begini :
Ada orang tua yang begitu emosi, takut dan khawatir ketika ada kabar di lingkungan sekolah anaknya yang masih kelas 5 SD ada oknum siswa yang menyebarkan link video porno di group WA khusus siswa. Sebuah group WA yang pure membernya adalah anak - anak. Tanpa ada orang tua dan guru.
Begitu takut dan khawatir sehingga mencapai level kemarahan. Sebuah reaksi yang wajar menurut saya, karena dilandasi oleh kekhawatiran anaknya sudah men-klik link tersebut, melihat hal yang masih tabu dalam jangkauan umurnya dan tidak tahu apa efeknya bagi si anak dalam jangka pendek maupun panjang.
Apakah anaknya akan berubah?
Apakah akan ketagihan?
Apakah akan mencari tahu lebih dalam lagi?
Apakah akan memengaruhi nilainya?
Apakah akan memengaruhi masa depannya?
Dan apakah - apakah lainnya yang masih belum pasti karena belum terjadi
Tapi apakah cukup hanya dengan overthinking, emosi, marah - marah, mengamuk, menyalahkan kesana kemari?
Parents,
Contoh di atas adalah kejadian nyata di sebuah sekolah yang cukup favorit. Bukan yang terbaik tapi cukup berprestasi. Banyak kejuaraan tingkat kecamatan, kabupaten bahkan provinsi dan nasional pernah diraih. Beragam bidang menorehkan prestasi. Jika saya sebutkan terlalu rinci, nanti akan bisa ditelusuri. Cukup saya sampaikan hampir di semua bidang. Agama, kesenian, sains, keterampilan, olah raga dll. Komplit
Namun diantara anak - anak hebat, guru - guru hebat, ortu yang hebat, tetap saja ada anak yang "berbeda". Saya tidak mau menyebutnya "produk gagal" karena perjalanan anak - anak ini masih panjang. Apa yang terjadi saat ini mungkin tidak akan sama endingnya dengan apa yang tercermin dari kejadian yang dilakukannya saat ini. Siapalah kita yang bisa memastikan sebuah perjalanan hidup seseorang sementara perjalanan hidup kita sendiripun masih menjadi misteri.
Jangan sangka anak - anak berbeda ini adalah anak biasa - biasa saja. Beberapa diantaranya adalah anak berprestasi. Peraih juara kelas, juara MTQ, atau berprestasi di cabang olah raga. Orang tua mereka pun bukan kaleng - kaleng. Para dosen dengan latar belakang pendidikan S3, aparat penegak hukum bahkan seorang guru.
Jadi?
Apa yang membuat mereka berbeda? Sementara di sekolah, anak - anak yang berbeda inipun mendapat kasih sayang dan
bimbingan dari guru yang sama serta fasilitas yang sama dengan anak -
anak lainnya.
Parents,
Di sinilah saya memahami jika ada yang mengatakan, orang tua dan keluarga adalah madrasah pertama dan utama bagi anak - anaknya. Seberapa bagusnya sekolah tempatnya menimba ilmu, tetap pada mulanya keluarga lah yang berperan dan akan terus berperan sepanjang hidupnya.
Saya sering berpesan kepada anak - anak saya, tidak apa - apa untuk berbuat kesalahan. Asal kalian belajar sesuatu dari kesalahan itu untuk menjadi lebih baik. Jujur, mengakui dan tidak mengulanginya. Berani bertindak harus berani bertanggung jawab. Ibuk yang pertama akan membela kalian, tapi Ibuk juga yang akan pertama menghukum kalian. Hehehe...terdengar kejam yak
Habis mau bagaimana lagi? Bukankah tidak ada orang yang sempurna?
Jadi biarlah mereka mengeksplor hidupnya, mengambil keputusan atas tiap tindakannya, namun tetap harus ingat batasannya. Tugas kita sebagai orang tualah yang memberikan landasan yang kuat untuk batasan ini, dari sisi moral, nalar, agama, etika, peraturan dan rasa tanggung jawab.
Parents,
Saya yakin tidak ada orang tua yang sengaja mendidik anaknya untuk menjadi buruk atau berbeda sesuai istilah yang pada awalnya saya gunakan. Namun terkadang karena merasa bersalah karena telah meninggalkannya bekerja atau alasan lainnya, menjadikan orang tua terlalu memanjakan anak, permissive, serba boleh, tak ada punishment, hanya rewards terus menerus dll
Ini juga sepertinya menimpa anak - anak yang berbeda di atas. Walaupun tidak mutlak demikian, karena ada diantaranya yang orang tuanya "sepertinya" cukup waktu dalam mendampingi namun terseret dalam kasus tersebut. Kemungkinan besar ada satu anak yang menjadi pemicu dan yang lain adalah efek paralel, hasil dari picuan tersebut.
Parents,
Saya pernah baca pesan seperti ini dari Ali Bin Abu Thalib “Didiklah anak sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu”
Bagi saya ini sebuah tantangan, bagaimana kita dididik pada zaman kita, tapi harus mendidik menyesuaikan dengan zaman si anak. Sesekali masih keluar kalimat "dulu ibuk begini begitu bla bla bla", sampai si anak menyadarkan, "itu kan dulu, Buk"
Oops...😁
Di sini "kesalahan" orang tua yang sering membandingkan parenting sekarang dengan parenting yang pernah dijalani di zaman dulu masih jadi anak.
Apakah itu pure sebuah kesalahan?
Belum tentu juga sebenarnya. Karena hal dasar seperti adab, moral dan etika menurut saya adalah timeless. Ini sangat penting untuk selalu ditekankan, meskipun terkesan ketinggalan jaman. Seperti bilang terima kasih, tolong dan maaf pada saat - saat yang tepat. Atau punya rasa malu jika melanggar peraturan. Atau tentang sekolah bukan melulu soal juara dan nilai bagus.
Tinggal bagaimana kita menyampaikan hal - hal tersebut dengan cara zaman sekarang. Mungkin demikian maksud Pak Ali Bin Abu Thalib ya? Termasuk bagaimana mengedukasi mereka tentang literasi digital sebagaimana contoh kasus di atas. Zaman dulu memang belum kenal WA, internet, link dll, tapi pasti sudah ada yang namanya standar baik dan buruk, salah dan benar, pantas dan tidak, yang menjadi landasan kita dalam berkomunikasi ataupun melakukan kegiatan apapun.
Dan satu lagi, they are imitating us. Apakah kita sudah menjadi teladan yang baik? Jangan hanya menuntut anak harus begini begitu sementara tindakan kita sendiri masih jauh dari hal tersebut. Jadilah contoh terlebih dahulu terhadap kondisi ideal yang kita harapkan akan dilakukan oleh anak - anak kita. Setuju?
Jika sudah terlanjur melakukan kesalahan? Ya sudah mau gimana lagi. Segera saja mencari solusi yang terbaik. Anggap saja lagi menghadapi ujian untuk naik kelas. Kalau tidak ada ujian, mana tahu nilai kita berapa.
Yuk belajar bareng - bareng, biar dapat nilai terbaik dalam ujian
Terima kasih sudah membaca, salam sayang buat anak - anak



Komentar
Posting Komentar